Duta TUHAN

Rabu, 09 September 2009,

Bacaan: Markus 5:1-20
Tahun 1993, seorang teman kuliah saya mengajak saya untuk mengikuti retreat di Jawa Timur. Saya menerima ajakan teman saya dan di retreat itulah saya mengalami mujizat Tuhan. Saya disembuhkan dari penyakit asma. Bukan hanya itu saja, saya menerima karunia untuk berbahasa Roh. Sesuatu yang bagi saya adalah anugerah. Saya mengalami sukacita yang berlimpah. Walau saya sudah menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat sejak tahun 1985, bahkan sudah melayani-Nya, tetapi iman kekristenan saya jatuh bangun. Mengikuti retreat dan mengalami jamahan mujizat Tuhan merupakan titik balik dari iman Kekristenan saya yang jatuh bangun. Sejak itulah saya antusias untuk bercerita kepada siapa saja apa yang telah Yesus kerjakan dalam hidup saya.

Alkitab menceritakan ketika Yesus mengusir roh jahat yang berjumlah besar dari seseorang yang tinggal di daerah pekuburan. Tidak ada seorang pun yang mampu merantainya. Tenaganya menjadi sangat luar biasa. Dia dijauhi oleh banyak orang dan sangat mengganggu lingkungan. Sampai suatu ketika Yesus mengusir roh-roh jahat keluar dari tubuhnya. Orang tersebut minta izin agar dikenan Yesus untuk menyertai-Nya (Markus 5:18). Akan tetapi Yesus tidak memperkenankannya, bahkan menyuruh orang tersebut untuk pulang dan menceritakan kepada orang sekampungnya apa yang telah Yesus perbuat atas hidupnya. Orang itu pun taat kepada Tuhan. Sesungguhnya orang tersebut telah mendapat kehormatan. Ia menjadi duta besar kerajaan Allah dengan bercerita tentang apa yang telah ia alami dan mempromosikan kuasa Yesus. Dalam 2 Korintus 5:20, tertulis: “Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.” Dengan jelas ada kata utusan–utusan Kristus. Kata tersebut sama dengan duta besar yang sama artinya dengan ambassador. Menjadi ambassador mewakili suatu negara adalah suatu kehormatan.

Dengan menjadi utusan suatu negara berarti nilai kita dipandang sebagai pribadi yang luar biasa. Bersediakah Anda menerima kehormatan menjadi ambassador Kerajaan Surga?

Sumber: Renungan Pagi, Agustus 2009

0 komentar:

Posting Komentar